Di sebuah sekolah bernama SMK Al Faruq, ada tiga sahabat yang sering bersama di kelas koding: Raka, Meymey, dan Doni.
Raka dari kelas X DKV, Meymey dari X DPB, dan Doni juga dari X DKV. Walaupun jurusannya berbeda, mereka selalu duduk berdekatan saat pelajaran koding web dasar.
Hari itu, pelajaran dimulai dengan Bu Rina, guru koding yang terkenal serius tapi sebenarnya baik.
“Anak-anak, hari ini kita belajar HTML. Siapa yang tahu HTML itu apa?” tanya Bu Rina.
Doni langsung mengangkat tangan dengan percaya diri.
“HTML itu… Hampir Tidak Mengerti Lagi, Bu.”
Satu kelas langsung tertawa keras.
Bu Rina menahan senyum.
“Bukan. HTML itu HyperText Markup Language, bahasa dasar untuk membuat halaman web.”
BAB 1
Bu Rina lalu menulis contoh kode di papan:
<html>
<head>
<title>Website Pertamaku</title>
</head>
<body>
<h1>Halo Dunia!</h1>
<p>Ini adalah website pertamaku.</p>
</body>
</html>
“Tag <html> menandakan awal halaman web,” jelas Bu Rina.
Meymey mencatat dengan rapi di bukunya.
Raka malah menatap layar laptop sambil mengerutkan dahi.
“Kenapa webku kosong?” katanya panik.
Doni melihat layar Raka lalu tertawa.
“Rak… kamu lupa nutup tag <title>.”
Raka langsung menepuk jidat.
“Pantesan… komputerku mungkin juga bingung.”
BAB II
Saat semua siswa sedang mencoba membuat halaman web sederhana, tiba-tiba Doni berteriak.
“Lho kok tulisan di webku gede banget?!”
Ternyata dia menulis:
<h1><h1><h1><h1>Halo Dunia</h1>
Meymey tertawa sampai hampir jatuh dari kursi.
“Doni, itu bukan memperbesar tulisan… itu bikin webmu panik.”
Raka ikut menimpali.
“Webnya mungkin mikir: Ini manusia apa printer spanduk?”
Satu kelas kembali tertawa.
Bahkan Bu Rina akhirnya ikut tersenyum.
BAB III
Beberapa minggu kemudian, mereka mendapat tugas kelompok membuat website sederhana tentang jurusan sekolah.
Namun terjadi masalah.
Raka ingin desainnya keren dengan banyak gambar.
Meymey ingin website yang rapi dan terstruktur.
Doni… malah sibuk membuat tombol yang bunyinya aneh.
“Aku bikin tombol ini kalau diklik bunyinya ‘pling’,” kata Doni bangga.
Raka langsung kesal.
“Kita disuruh bikin website informasi, bukan mainan!”
Meymey juga mulai emosi.
“Kalian ini serius nggak sih?! Deadline tinggal dua hari!”
Suasana yang biasanya penuh tawa tiba-tiba menjadi tegang.
Raka bahkan sempat berkata,
“Kalau gini caranya, aku kerjain sendiri saja!”
Doni diam.
Untuk pertama kalinya mereka pulang tanpa bicara.
BAB IV
Malam itu Doni membuka laptopnya sendirian.
Ia melihat file proyek mereka:
index.html
about.html
gallery.html
Ia teringat waktu mereka pertama belajar HTML bersama.
“Dulu kita ketawa terus…” gumamnya pelan.
Doni akhirnya mengirim pesan ke grup mereka.
“Maaf kalau aku terlalu bercanda. Aku cuma pengen kita senang belajar.”
Beberapa menit kemudian Meymey membalas.
“Aku juga minta maaf. Aku terlalu panik.”
Raka lama tidak membalas.
Sampai akhirnya satu pesan muncul.
“Besok kita selesaikan bareng.”
BAB 5
Besoknya mereka datang lebih pagi ke lab komputer.
Raka mulai menata struktur HTML.
<header>
<h1>Jurusan SMK Al Faruq</h1>
</header>
Meymey mengisi bagian isi web.
<section>
<h2>Desain Komunikasi Visual</h2>
<p>Belajar desain grafis, ilustrasi, dan multimedia.</p>
</section>
Doni membuat galeri foto jurusan.
<img src="dkv.jpg">
<img src="dpb.jpg">
Raka melihat hasilnya.
“Eh… ini bagus juga.”
Meymey tersenyum.
Doni langsung berkata,
“Berarti aku masih boleh bikin tombol?”
Raka dan Meymey langsung bersamaan menjawab,
“JANGAN YANG ANEH-ANEH!”
Satu lab kembali dipenuhi tawa.
BAB VI
Hari presentasi tiba.
Raka sempat gugup.
“Kalau websitenya error gimana?”
Doni menjawab santai.
“Ya kita bilang itu fitur misterius.”
Meymey menahan tawa.
Saat website mereka ditampilkan, halaman muncul dengan rapi.
Ada judul, teks, gambar, dan navigasi sederhana.
Bu Rina mengangguk puas.
“Struktur HTML kalian sudah benar. Kerja timnya juga bagus.”
Raka, Meymey, dan Doni saling menatap lega.
BAB VII
Setelah kelas selesai, mereka duduk di kantin sekolah.
Doni berkata,
“Kalau dipikir-pikir, HTML itu mirip persahabatan.”
Raka bingung.
“Maksudnya?”
Doni menjawab,
“Kalau ada tag yang tidak ditutup… semuanya bisa berantakan.”
Meymey tersenyum.
“Makanya harus saling melengkapi.”
Raka mengangguk.
“Seperti kita.”
Mereka bertiga tertawa.
Di laptop mereka, masih terbuka file sederhana:
<h1>Persahabatan</h1>
<p>Kadang lucu, kadang marah, kadang sedih.
Tapi kalau saling mendukung, semuanya bisa diperbaiki.</p>
Dan di situlah mereka sadar.
HTML mengajarkan lebih dari sekadar membuat website.
Ia juga mengajarkan cara membangun sesuatu bersama — termasuk persahabatan.